wahai pemilik nyawaku betapa lemah diriku ini berat ujian darimu
ku pasrahkan semua padaMU. Tuhan baru ku sadar indahnya nikmat sehat itu tak pandai aku bersyukur kini ku harapkan cintaMU. Kata2 cinta terucap indah mengalir berzikir di kidung doaku sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosaku butir2 cinta air mataku teringat semua yang kau beri padaku ampuni segala khilaf dan salah selama ini ya Ilahi muhasabah cintaku.
"Ya Allah,
Yang maha mendengar segala isi hati. Aku bersyukur di atas nikmat cinta sesama insan yang Engkau kurniakan dalam jiwa ini. Jika benar dia adalah jodohku, maka Engkau satukanlah hati-hati kami. Titipkanlah rindu dalam jiwa kami. Moga kami dapat menjalani kehidupan ini mengikut syariatMu. sesungguhnya Engkau Maha penentu segalanya."
Ya rabb,
Aku disini, menanti dirimu payahnya wahai Tuhan melalui hayat ini tanpaMu Ya Quddus malam menjelang di kala mata zahir ingin menutup aku masih tidak jemu menanti mengharap Kau akan hadir dalam setiap saat hidup ini membuka kembali pintu mata batinku serta pintu-pintu rumahMU
Ya Rabbi
saat aku berada di depan pintu rumahMU panggillah aku lagi masuk rumahMU itu kerana jika manusia itu tahu betapa indahnya rumahMU nescaya mereka tidak akan ingin hidup didunia ini lagi kerana disitulah letaknya syurga hati yang abadi manisnya tiada tukar ganti sekalipun dengan jasad dan rohku ini wahai sang pencipta aku merindui saat itu lagi bila aku pulang nanti panggillah aku lagi.
sungguh Ya Rabbi
saat itu,..hanya engkau yang tahu betapa jasadku dan hayah ku ini, hanya milikmu betapa bahagianya aku yang hina ini ketika kau berada disisi.
Ya Aziz
meskipun aku memindahkan segala nikmat dunia ini meski aku himpun semua pasir-pasir di bumi takkan terlawan indahnya nikmatMU yang hakiki.
Ya Rabbi
setelah aku kembali ke bumi yang diseliputi nafsu ini kalam hati mula berbunyi apakah yang ada pada kehidupan ini? kehidupan yang aku sendiri tak pasti lalu untuk dimengerti dan jalan manakah yang harus ku tuju? betapa aku bosan dengan jalan ini betapa Kau maha mengetahui apa yang bersarang di hati karena KAU pemilik nyawaku....
Friday, October 7, 2011
Ku Bersujud di Depan RumahMU
Inilah Aku
Inilah aku. Aku yang kini bukanlah aku
yang dahulu kau kenal. Kau boleh mencemoohku,
mengejekku, menjelek-jelekkanku, menghinaku,
maupun mencibir tentang diriku yang saat ini,
silahkan. Kau berhak untuk mengkritikku, menilai
aku begini dan begitu, menyangka aku seperti ini
dan seperti itu, silahkan. Aku tak perduli. Inilah
aku. Karena aku yang sekarang, bukanlah aku yang dahulu.
Inilah aku. Aku yang saat ini bukanlah aku yang dahulu
kau kenal. Telah kutinggalkan majelis-majelis ilmu yang
suci. Aku yang sekarang telah aku campakkan di pojok-pojok
masjid yang sepi. Aku yang sekarang telah kucabut dari
rerumpunan amal yang mati.
Sekarang, kau bisa lihat seperti apa diriku. Kau bisa tahu,
bagaimana kondisiku saat ini jika dibandingkan dengan kondisiku
yang dahulu. Kini, aku bebas berbuat semauku. Aku bebas
menghamburkan waktu yang telah dititipkanNya kepadaku,
yang kelak akan kupertanggungjawabkan kepadaNya,
dengan perkara yang dahulu kuanggap sia-sia, bahkan dosa.
Inilah aku saat ini, bukan aku yang dahulu.
Aku yang sekarang, adalah orang yang paling sulit menerima nasihat.
Hatiku langsung mengeras dan jiwaku langsung menolak sekuat tenaga
ketika sentuhan lembut itu menyapa ke relung terdalam qalbuku.
“Apa yang kau tahu tentangku?”, begitu bantahku ketika sapaan
penuh cinta itu menyentuh jiwaku. Sedangkan kau pasti paham betul,
kalau aku yang dahulu kau kenal, bukanlah orang seperti aku yang
saat ini.
Meski terkadang, dalam kesendirianku di tengah keheningan masa,
bayang-bayang silamku itu senantiasa menghantuiku, merampas lelap
tidurku, merampok ketenangan jiwaku, membisikkan nada-nada indah
yang kini terasa sumbang di telingaku. Suara bisikan itu begitu
syahdu, nada yang mengalun begitu merdu saat ia memetik dawai
kalbuku. Suara-suara itulah yang terkadang membuatku rindu kembali
ke masa-masa itu. Suara yang seolah-olah menggamit lembut tanganku,
menebar senyum yang menyejukkan kearah wajahku yang berdebu, dan
berkata dengan nada yang begitu halus, “Kamu harus bangkit lagi.
Tidakkah kau rindu dengan masa-masa itu?”
Aku.. aku..
Entah kenapa, tergagap aku dibuatnya. Lidahku begitu kelu ketika
jiwaku ingin menjawab panggilan itu. Panggilan yang dahulu kerap
mengisi keseharianku. Panggilan yang dahulu senantiasa mewarnai
masa indahku. Panggilan yang melambungkanku melesat ke penjuru
mayapada, meraup, dan mereguk kenikmatan yang bersepuhkan rahmanNya
yang bergelegak cerkas di sana.
Aku… aku…
Masih saja aku tergagap karenanya…..
Aku pun bertanya kepada dirimu saat ini, “Jawaban terjujur apa
yang akan kau berikan wahai jiwa yang bening?”
yang dahulu kau kenal. Kau boleh mencemoohku,
mengejekku, menjelek-jelekkanku, menghinaku,
maupun mencibir tentang diriku yang saat ini,
silahkan. Kau berhak untuk mengkritikku, menilai
aku begini dan begitu, menyangka aku seperti ini
dan seperti itu, silahkan. Aku tak perduli. Inilah
aku. Karena aku yang sekarang, bukanlah aku yang dahulu.
Inilah aku. Aku yang saat ini bukanlah aku yang dahulu
kau kenal. Telah kutinggalkan majelis-majelis ilmu yang
suci. Aku yang sekarang telah aku campakkan di pojok-pojok
masjid yang sepi. Aku yang sekarang telah kucabut dari
rerumpunan amal yang mati.
Sekarang, kau bisa lihat seperti apa diriku. Kau bisa tahu,
bagaimana kondisiku saat ini jika dibandingkan dengan kondisiku
yang dahulu. Kini, aku bebas berbuat semauku. Aku bebas
menghamburkan waktu yang telah dititipkanNya kepadaku,
yang kelak akan kupertanggungjawabkan kepadaNya,
dengan perkara yang dahulu kuanggap sia-sia, bahkan dosa.
Inilah aku saat ini, bukan aku yang dahulu.
Aku yang sekarang, adalah orang yang paling sulit menerima nasihat.
Hatiku langsung mengeras dan jiwaku langsung menolak sekuat tenaga
ketika sentuhan lembut itu menyapa ke relung terdalam qalbuku.
“Apa yang kau tahu tentangku?”, begitu bantahku ketika sapaan
penuh cinta itu menyentuh jiwaku. Sedangkan kau pasti paham betul,
kalau aku yang dahulu kau kenal, bukanlah orang seperti aku yang
saat ini.
Meski terkadang, dalam kesendirianku di tengah keheningan masa,
bayang-bayang silamku itu senantiasa menghantuiku, merampas lelap
tidurku, merampok ketenangan jiwaku, membisikkan nada-nada indah
yang kini terasa sumbang di telingaku. Suara bisikan itu begitu
syahdu, nada yang mengalun begitu merdu saat ia memetik dawai
kalbuku. Suara-suara itulah yang terkadang membuatku rindu kembali
ke masa-masa itu. Suara yang seolah-olah menggamit lembut tanganku,
menebar senyum yang menyejukkan kearah wajahku yang berdebu, dan
berkata dengan nada yang begitu halus, “Kamu harus bangkit lagi.
Tidakkah kau rindu dengan masa-masa itu?”
Aku.. aku..
Entah kenapa, tergagap aku dibuatnya. Lidahku begitu kelu ketika
jiwaku ingin menjawab panggilan itu. Panggilan yang dahulu kerap
mengisi keseharianku. Panggilan yang dahulu senantiasa mewarnai
masa indahku. Panggilan yang melambungkanku melesat ke penjuru
mayapada, meraup, dan mereguk kenikmatan yang bersepuhkan rahmanNya
yang bergelegak cerkas di sana.
Aku… aku…
Masih saja aku tergagap karenanya…..
Aku pun bertanya kepada dirimu saat ini, “Jawaban terjujur apa
yang akan kau berikan wahai jiwa yang bening?”
Subscribe to:
Posts (Atom)

