wahai pemilik nyawaku betapa lemah diriku ini berat ujian darimu
ku pasrahkan semua padaMU. Tuhan baru ku sadar indahnya nikmat sehat itu tak pandai aku bersyukur kini ku harapkan cintaMU. Kata2 cinta terucap indah mengalir berzikir di kidung doaku sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosaku butir2 cinta air mataku teringat semua yang kau beri padaku ampuni segala khilaf dan salah selama ini ya Ilahi muhasabah cintaku.
"Ya Allah,
Yang maha mendengar segala isi hati. Aku bersyukur di atas nikmat cinta sesama insan yang Engkau kurniakan dalam jiwa ini. Jika benar dia adalah jodohku, maka Engkau satukanlah hati-hati kami. Titipkanlah rindu dalam jiwa kami. Moga kami dapat menjalani kehidupan ini mengikut syariatMu. sesungguhnya Engkau Maha penentu segalanya."
Ya rabb,
Aku disini, menanti dirimu payahnya wahai Tuhan melalui hayat ini tanpaMu Ya Quddus malam menjelang di kala mata zahir ingin menutup aku masih tidak jemu menanti mengharap Kau akan hadir dalam setiap saat hidup ini membuka kembali pintu mata batinku serta pintu-pintu rumahMU
Ya Rabbi
saat aku berada di depan pintu rumahMU panggillah aku lagi masuk rumahMU itu kerana jika manusia itu tahu betapa indahnya rumahMU nescaya mereka tidak akan ingin hidup didunia ini lagi kerana disitulah letaknya syurga hati yang abadi manisnya tiada tukar ganti sekalipun dengan jasad dan rohku ini wahai sang pencipta aku merindui saat itu lagi bila aku pulang nanti panggillah aku lagi.
sungguh Ya Rabbi
saat itu,..hanya engkau yang tahu betapa jasadku dan hayah ku ini, hanya milikmu betapa bahagianya aku yang hina ini ketika kau berada disisi.
Ya Aziz
meskipun aku memindahkan segala nikmat dunia ini meski aku himpun semua pasir-pasir di bumi takkan terlawan indahnya nikmatMU yang hakiki.
Ya Rabbi
setelah aku kembali ke bumi yang diseliputi nafsu ini kalam hati mula berbunyi apakah yang ada pada kehidupan ini? kehidupan yang aku sendiri tak pasti lalu untuk dimengerti dan jalan manakah yang harus ku tuju? betapa aku bosan dengan jalan ini betapa Kau maha mengetahui apa yang bersarang di hati karena KAU pemilik nyawaku....
Friday, October 7, 2011
Ku Bersujud di Depan RumahMU
Inilah Aku
Inilah aku. Aku yang kini bukanlah aku
yang dahulu kau kenal. Kau boleh mencemoohku,
mengejekku, menjelek-jelekkanku, menghinaku,
maupun mencibir tentang diriku yang saat ini,
silahkan. Kau berhak untuk mengkritikku, menilai
aku begini dan begitu, menyangka aku seperti ini
dan seperti itu, silahkan. Aku tak perduli. Inilah
aku. Karena aku yang sekarang, bukanlah aku yang dahulu.
Inilah aku. Aku yang saat ini bukanlah aku yang dahulu
kau kenal. Telah kutinggalkan majelis-majelis ilmu yang
suci. Aku yang sekarang telah aku campakkan di pojok-pojok
masjid yang sepi. Aku yang sekarang telah kucabut dari
rerumpunan amal yang mati.
Sekarang, kau bisa lihat seperti apa diriku. Kau bisa tahu,
bagaimana kondisiku saat ini jika dibandingkan dengan kondisiku
yang dahulu. Kini, aku bebas berbuat semauku. Aku bebas
menghamburkan waktu yang telah dititipkanNya kepadaku,
yang kelak akan kupertanggungjawabkan kepadaNya,
dengan perkara yang dahulu kuanggap sia-sia, bahkan dosa.
Inilah aku saat ini, bukan aku yang dahulu.
Aku yang sekarang, adalah orang yang paling sulit menerima nasihat.
Hatiku langsung mengeras dan jiwaku langsung menolak sekuat tenaga
ketika sentuhan lembut itu menyapa ke relung terdalam qalbuku.
“Apa yang kau tahu tentangku?”, begitu bantahku ketika sapaan
penuh cinta itu menyentuh jiwaku. Sedangkan kau pasti paham betul,
kalau aku yang dahulu kau kenal, bukanlah orang seperti aku yang
saat ini.
Meski terkadang, dalam kesendirianku di tengah keheningan masa,
bayang-bayang silamku itu senantiasa menghantuiku, merampas lelap
tidurku, merampok ketenangan jiwaku, membisikkan nada-nada indah
yang kini terasa sumbang di telingaku. Suara bisikan itu begitu
syahdu, nada yang mengalun begitu merdu saat ia memetik dawai
kalbuku. Suara-suara itulah yang terkadang membuatku rindu kembali
ke masa-masa itu. Suara yang seolah-olah menggamit lembut tanganku,
menebar senyum yang menyejukkan kearah wajahku yang berdebu, dan
berkata dengan nada yang begitu halus, “Kamu harus bangkit lagi.
Tidakkah kau rindu dengan masa-masa itu?”
Aku.. aku..
Entah kenapa, tergagap aku dibuatnya. Lidahku begitu kelu ketika
jiwaku ingin menjawab panggilan itu. Panggilan yang dahulu kerap
mengisi keseharianku. Panggilan yang dahulu senantiasa mewarnai
masa indahku. Panggilan yang melambungkanku melesat ke penjuru
mayapada, meraup, dan mereguk kenikmatan yang bersepuhkan rahmanNya
yang bergelegak cerkas di sana.
Aku… aku…
Masih saja aku tergagap karenanya…..
Aku pun bertanya kepada dirimu saat ini, “Jawaban terjujur apa
yang akan kau berikan wahai jiwa yang bening?”
yang dahulu kau kenal. Kau boleh mencemoohku,
mengejekku, menjelek-jelekkanku, menghinaku,
maupun mencibir tentang diriku yang saat ini,
silahkan. Kau berhak untuk mengkritikku, menilai
aku begini dan begitu, menyangka aku seperti ini
dan seperti itu, silahkan. Aku tak perduli. Inilah
aku. Karena aku yang sekarang, bukanlah aku yang dahulu.
Inilah aku. Aku yang saat ini bukanlah aku yang dahulu
kau kenal. Telah kutinggalkan majelis-majelis ilmu yang
suci. Aku yang sekarang telah aku campakkan di pojok-pojok
masjid yang sepi. Aku yang sekarang telah kucabut dari
rerumpunan amal yang mati.
Sekarang, kau bisa lihat seperti apa diriku. Kau bisa tahu,
bagaimana kondisiku saat ini jika dibandingkan dengan kondisiku
yang dahulu. Kini, aku bebas berbuat semauku. Aku bebas
menghamburkan waktu yang telah dititipkanNya kepadaku,
yang kelak akan kupertanggungjawabkan kepadaNya,
dengan perkara yang dahulu kuanggap sia-sia, bahkan dosa.
Inilah aku saat ini, bukan aku yang dahulu.
Aku yang sekarang, adalah orang yang paling sulit menerima nasihat.
Hatiku langsung mengeras dan jiwaku langsung menolak sekuat tenaga
ketika sentuhan lembut itu menyapa ke relung terdalam qalbuku.
“Apa yang kau tahu tentangku?”, begitu bantahku ketika sapaan
penuh cinta itu menyentuh jiwaku. Sedangkan kau pasti paham betul,
kalau aku yang dahulu kau kenal, bukanlah orang seperti aku yang
saat ini.
Meski terkadang, dalam kesendirianku di tengah keheningan masa,
bayang-bayang silamku itu senantiasa menghantuiku, merampas lelap
tidurku, merampok ketenangan jiwaku, membisikkan nada-nada indah
yang kini terasa sumbang di telingaku. Suara bisikan itu begitu
syahdu, nada yang mengalun begitu merdu saat ia memetik dawai
kalbuku. Suara-suara itulah yang terkadang membuatku rindu kembali
ke masa-masa itu. Suara yang seolah-olah menggamit lembut tanganku,
menebar senyum yang menyejukkan kearah wajahku yang berdebu, dan
berkata dengan nada yang begitu halus, “Kamu harus bangkit lagi.
Tidakkah kau rindu dengan masa-masa itu?”
Aku.. aku..
Entah kenapa, tergagap aku dibuatnya. Lidahku begitu kelu ketika
jiwaku ingin menjawab panggilan itu. Panggilan yang dahulu kerap
mengisi keseharianku. Panggilan yang dahulu senantiasa mewarnai
masa indahku. Panggilan yang melambungkanku melesat ke penjuru
mayapada, meraup, dan mereguk kenikmatan yang bersepuhkan rahmanNya
yang bergelegak cerkas di sana.
Aku… aku…
Masih saja aku tergagap karenanya…..
Aku pun bertanya kepada dirimu saat ini, “Jawaban terjujur apa
yang akan kau berikan wahai jiwa yang bening?”
Tuesday, September 27, 2011
Ketakutan Ku
Bagiku hidup adalah pilihan, bergerak maju atau hanya disini. Berdiri dalam kebingungan entah kemana mengayun langkah. Menentukan arah adalah hal yang amat sangat sulit. Keberanian memutuskan adalah hal yang begitu luar biasa. Tahukah kamu bahwa seringkali ada seikat rasa yang menghantui pada suatu keputusan yang akan diambil, KETAKUTAN.
Ya... seikat rasa takut akan mengacaukan segalanya. Seperti itulah diriku sekarang, memilih untuk tetap berdiri dalam pijakan awalku dan selanjutnya bingung akan kemana, bagimana mengatur langkah berikutnya. Aku takut, akan berakhir disini begitu saja. Melihat orang lain begitu ringan mengayun langkah membuatku “iri”….. Bukan!!! Tepatnya marah. Marah pada diriku yang begitu lamban bergerak. Aku takut dalam kebingunganku, benar-benar takut bahwa aku tak bisa menyelesaikan langkahku dengan benar.
Rasa takutku telah merendahkan harga diriku. Membawaku pada kondisi kritis, dimana sindrom gugup telah menguasai alamku. Kekhwatiran yang berlebihan mengikatku disisi kepalaku dengan isi kosong sementara diluar sana menuntut adanya isi, bahkan lebih dari sekedar isi. Berat sekali rasanya. Aku ingin berguru pada mereka, bagaimana caranya meluahkan gerah dan menarik garis lurus pada lintasan yang harus dilalui. Banyak kulalaikan, banyak kubiarkan. Sia-sia??? Mungkin iya!!!
Diriku tak hanya sekedar pecundang, tapi juga penghianat pada inginku, ya...karena seikat rasa takut itu yang tak bisa kuurai. Semakin hari ikatannya makin kuat, dan aku semakin susah bergerak bahkan untuk menarik nafas sekalipun. Sesak!!! Kalian pernah merasakan sesak nafas???..... Seperti itulah rasanya. Sulit digambarkan dengan kata. Yang jelas rasanya amat sangat tidak enak, makan minum jalan duduk baring bahkan ketika tertawapun yang seharusnya membawa kegembiraan juga tidak enak.
Aku takut...takut pada diriku yang semakin menggila. Biasanya ketika kutengadah wajahku kelangit sambil melebarkan lengan kesejukan akan terasa. Kali ini tidak!! Tidak ada sejuk yang kurasa yang ada hanyalah gamang. Hampa. Dan takut yang amat berlebihan. Aku kehilangan diriku. Aku takut. Takut akan ketegaranku semakin memudar.
Kakiku tak kuat berdiri, aku lelah dan ingin duduk sejenak. Bukan menyerah tapi sesaat rehat dari lingkaran. Aku pusing terus berputar pada satu pusaran. Aku mau menyandarkan kepala. Mengatur nafasku yang sesak. Aku ingin seseorang membawaku terbang, merengkuh pundakku dan mengitari kemayaan pikiranku dari kenyataan dunia yang sungguh amat baik padaku. Maaf, bukannya tak kusadari kebaikan itu hanya dirikulah yang terlalu naif memaknai suatu KESULITAN.
Sekarang aku tengah berjuang melawan sisi gelap dari diriku. Timbul tenggelam aku disini, medan perangku. Luka menganga akibat goresan pedang jiwaku yang kejam membuatku kehilangan banyak darah. Aku lemah. Aku takut. Takut kalau akhirnya akan mati oleh diriku sendiri. Membayangkannya saja membuat nadiku berhenti bedetak. Aku takut!! Sungguh... rasanya seperti tertusuk beling pada tumit, amat sangat perih. Seperti itulah rasa takutku menjalar, melilit tubuhku yang padat oleh dusta, bahwa aku tegar disini. Tolonglah... Aku ingin lepas dari ikatan itu, bagaimanapun caranya!!!
“aku berharap ada pesan darimu kunang-kunang malam, bahkan hanya sepetik kata mungkin akan membuatku tak takut lagi”
Monday, September 26, 2011
ku ingin berjalan terus
walau dalam gelap aku coba terus berjalan
walau pekat ini tak terhindarkan aku tetap berjalan
dan..
ketika ku terjatuh aku harus mencoba bangun dari jatuh ku
namun
mengapa perih ini terus terasa, aku coba bangkit sekuat tenaga
namun ku belum mampu
ku pandang sekeliling ku
namun
hanya gelap yang ada di sekitar ku
aku lelah berjalan di dalam gelapan ini
aku tak memiliki tujuan dalam gelap ini
aku ingin keluar dalam gelap ini
agar ku dapat menentukan arah kemana aku harus berjalan
walau dalam gelap ku terus berjalan
dalam lelah ku, perihku dan kesendirianku kini ku ingin berhenti
tuk beristirahat
akan tetapi ku tak bisa diam saja
aku harus terus mencari sepercik cahaya itu
walaupun dan bagaimana pun
ya, kini ku hanya ingin bersahabat dengan diri ku sendiri
aku bukan seorang yang cukup kuat dalam perjalanan sendiri
mungkin aku butuh teman di banyak perjalanan nanti
dan ku ingin berjalan terus menjemput cahaya itu
Aku butuh berjalan dalam hujan
Kita diciptakan didunia ini
Bukan untuk mencintai orang yang sempurna
Tapi untuk mencintai orang yang tidak sempurna
Dengan cara yang sempurna
Angin basah di awal Maret bertiup perlahan merontokkan beberapa helai daun kering yang masih tersisa di ujung ranting-ranting pohon dekat makam. Langit diatas menggantung sarat muatan, seakan ingin memuntahkan isinya kebumi. Sisa cahaya matahari terakhir menghilang tertutup mendung yang pekat. Angin bertiup perlahan membawa aroma hujan, meniup gugur daun-daun terakhir. Sama seperti hatiku yang hampa bagai teriup angin. Aku menatap gundukan tanah merah tanpa berkata apapun dan berusaha menahan tangis yang hendak tumpah. Aku berjalan perlahan meninggalkan kawasan pemakaman. Air pertama jatuh dari langit saat aku melangkah keluar dari gerbang pemakaman. Aku melangkah tanpa memperdulikan air kedua yang jatuh tepat di ujung hidungku. Pikiranku terus dipenuhi pertanyaan, Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa sebenarnya yang salah? Apa yang sebenarnya terjadi?Mengapa dia meninggalkan ku? Apakah dia marah padaku? Apa aku bisa menghadapi semua tanpa kehadiran dirinya? “ARGHHH….”Aku berteriak pada jalanan yang legang. Lampu kota sudah menyala, hujan turun makin deras beberapa orang berlari mencari tempat berteduh. Sama sekali tidak terlintas dalam benakku untuk berteduh. Aku butuh mendinginkan kepalaku sejenak dan merenungkan apa yang sedang terjadi, aku butuh berjalan dalam hujan saat ini. Daun-daun kering rontok, jatuh berguguran dijalan. Seperti hati ku…Aku tiba di persimpangan jalan. ah… Hidup emang penuh pilihan… kita harus memilih dengan cepat karna sang waktu terus berjalan tanpa mau peduli pada perasaan kita… Perasaan ........ aku muak dengan segala omong kosong tentang perasaan ini!
Aku menengadahkan wajahku, hujan semakin menderas…”Aku tidak bisa melupakan mu sekaligus membunuh rasa rinduku ini padamu AYAH”
Bukan untuk mencintai orang yang sempurna
Tapi untuk mencintai orang yang tidak sempurna
Dengan cara yang sempurna
Angin basah di awal Maret bertiup perlahan merontokkan beberapa helai daun kering yang masih tersisa di ujung ranting-ranting pohon dekat makam. Langit diatas menggantung sarat muatan, seakan ingin memuntahkan isinya kebumi. Sisa cahaya matahari terakhir menghilang tertutup mendung yang pekat. Angin bertiup perlahan membawa aroma hujan, meniup gugur daun-daun terakhir. Sama seperti hatiku yang hampa bagai teriup angin. Aku menatap gundukan tanah merah tanpa berkata apapun dan berusaha menahan tangis yang hendak tumpah. Aku berjalan perlahan meninggalkan kawasan pemakaman. Air pertama jatuh dari langit saat aku melangkah keluar dari gerbang pemakaman. Aku melangkah tanpa memperdulikan air kedua yang jatuh tepat di ujung hidungku. Pikiranku terus dipenuhi pertanyaan, Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa sebenarnya yang salah? Apa yang sebenarnya terjadi?Mengapa dia meninggalkan ku? Apakah dia marah padaku? Apa aku bisa menghadapi semua tanpa kehadiran dirinya? “ARGHHH….”Aku berteriak pada jalanan yang legang. Lampu kota sudah menyala, hujan turun makin deras beberapa orang berlari mencari tempat berteduh. Sama sekali tidak terlintas dalam benakku untuk berteduh. Aku butuh mendinginkan kepalaku sejenak dan merenungkan apa yang sedang terjadi, aku butuh berjalan dalam hujan saat ini. Daun-daun kering rontok, jatuh berguguran dijalan. Seperti hati ku…Aku tiba di persimpangan jalan. ah… Hidup emang penuh pilihan… kita harus memilih dengan cepat karna sang waktu terus berjalan tanpa mau peduli pada perasaan kita… Perasaan ........ aku muak dengan segala omong kosong tentang perasaan ini!
Aku menengadahkan wajahku, hujan semakin menderas…”Aku tidak bisa melupakan mu sekaligus membunuh rasa rinduku ini padamu AYAH”
Sunday, September 18, 2011
COMPLICATED !!!!!!
Complicated!!!
Bukan. ini bukan sebuah judul. Ini hanyalah sebuah kata yang terlontar dari mulut busuk seorang laki2 yang tak lain dan tak bukan adalah sekedar anjing jalanan yang penuh debu dan lusuh. Kotor, Menjijikkan. Seorang laki2 yang kuat, tegar dan suvive seperti kata kawan2nya. Tapi itu kebohongan. Palsu. Jika diantara kalian benar2 mengenalnya, maka kan kau temukan jiwa yang hancur, tubuh yang remuk. Mencoba berdiri dan terus berjalan diantara iblia-iblis yang selalu murka ia terus dan terus mencoba menyusun puzzle kehidupannya yang telah menjadi kepingan tak beraturan.
Complicated!!!! Lagi-lagi kata itu yang terlontar seketika olehnya. Helaan nafasnya yang panjang, tatapan matanya yang kosong mengiringinya pada mimpi-mimpinya. Hampa…. Mimpi palsu yang selalu hadir dalam hidupnya yang nyata.…..Kering rasanya kerongkongannya....Tubuhnya meringan dan semakin ringan…. Sangat ringan…. Namun gerak langkahnya terasa berat….. Bahkan untuk mengedipkan mata pun terasa sulit. Terus dan terus berjalan Tertatih-tatih, menangis, mengais.
Tak satupun peduli padanya. Perih, memang, namun ia tak mau terus-terusan menjadi anjing jalanan. Sepasang mata menatapnya sayu. Tangan itu hendak meraihnya. Namun ternyata palsu. Dan lagi-lagi kepalsuan yang ia hadapi. Berteriak ia dalam himpitan dan jepitan kehidupan yang menyumbat pikirannya. Tak satu pun mampu mendengar jeritannya. Rumitnya kehidupan yang ia jalani rupanya membuatnya terbelenggu dalam sebuah ego. Ego yang membuatnya lupa akan dirinya. Ambisinya mencapai mimpi-mimpinya membutakan mata hatinya. Dan benar-benar buta perasaannya. Tak ingat siapa dirinya. Hanya sebuah ambisi kosong yang ia anggap sebagai mimpinya.
Hilang akal sehatnya, yang dia inginkan hanyalah menjadi bentuk di dunia ini. Bukan anjing jalanan. Antara sadar dan tidak, egonya menguasainya, menuntunnya pada sebuah mimpi palsu. Ah... lelah rasanya. Tubuhnya, Perasaannya. Ia ingin terbebas dari belenggu ego yang sangat menyakitkan. Namun rupanya tak kuasa ia. Hidupnya membuat ia semakin terjerat.
Yah,,, terjerat oleh egonya. Adakah cahaya yang akan menyinari jalannya? Melumerkan egonya dan menghancurkan kerasnya ambisi. Mungkinkah ia akan dapatkan kehidupan normalnya kembali? Huft… Pertanyaan yang sulit dijawab. Aku pun tak mampu. Sulit diprediksi. Rumit dipecahkan, karena memang sangat complicated!!!
Diam. Laki2 itu terdiam. Lelah berjalan, lelah melawan nafsunya. Letih menjalani hidupnya yang gila. Berfikir dia Jalan mana yang harus ditempuh. Persimpangan ini terlalu rumit, Penuh pesona, Namun terasa sesak udaranya. Huft… mungkin dia butuh petunjuk Namun pada siapa? Kemana? Entahlah…
I even never don’t know…..!!!!!!
Bukan. ini bukan sebuah judul. Ini hanyalah sebuah kata yang terlontar dari mulut busuk seorang laki2 yang tak lain dan tak bukan adalah sekedar anjing jalanan yang penuh debu dan lusuh. Kotor, Menjijikkan. Seorang laki2 yang kuat, tegar dan suvive seperti kata kawan2nya. Tapi itu kebohongan. Palsu. Jika diantara kalian benar2 mengenalnya, maka kan kau temukan jiwa yang hancur, tubuh yang remuk. Mencoba berdiri dan terus berjalan diantara iblia-iblis yang selalu murka ia terus dan terus mencoba menyusun puzzle kehidupannya yang telah menjadi kepingan tak beraturan.
Complicated!!!! Lagi-lagi kata itu yang terlontar seketika olehnya. Helaan nafasnya yang panjang, tatapan matanya yang kosong mengiringinya pada mimpi-mimpinya. Hampa…. Mimpi palsu yang selalu hadir dalam hidupnya yang nyata.…..Kering rasanya kerongkongannya....Tubuhnya meringan dan semakin ringan…. Sangat ringan…. Namun gerak langkahnya terasa berat….. Bahkan untuk mengedipkan mata pun terasa sulit. Terus dan terus berjalan Tertatih-tatih, menangis, mengais.
Tak satupun peduli padanya. Perih, memang, namun ia tak mau terus-terusan menjadi anjing jalanan. Sepasang mata menatapnya sayu. Tangan itu hendak meraihnya. Namun ternyata palsu. Dan lagi-lagi kepalsuan yang ia hadapi. Berteriak ia dalam himpitan dan jepitan kehidupan yang menyumbat pikirannya. Tak satu pun mampu mendengar jeritannya. Rumitnya kehidupan yang ia jalani rupanya membuatnya terbelenggu dalam sebuah ego. Ego yang membuatnya lupa akan dirinya. Ambisinya mencapai mimpi-mimpinya membutakan mata hatinya. Dan benar-benar buta perasaannya. Tak ingat siapa dirinya. Hanya sebuah ambisi kosong yang ia anggap sebagai mimpinya.
Hilang akal sehatnya, yang dia inginkan hanyalah menjadi bentuk di dunia ini. Bukan anjing jalanan. Antara sadar dan tidak, egonya menguasainya, menuntunnya pada sebuah mimpi palsu. Ah... lelah rasanya. Tubuhnya, Perasaannya. Ia ingin terbebas dari belenggu ego yang sangat menyakitkan. Namun rupanya tak kuasa ia. Hidupnya membuat ia semakin terjerat.
Yah,,, terjerat oleh egonya. Adakah cahaya yang akan menyinari jalannya? Melumerkan egonya dan menghancurkan kerasnya ambisi. Mungkinkah ia akan dapatkan kehidupan normalnya kembali? Huft… Pertanyaan yang sulit dijawab. Aku pun tak mampu. Sulit diprediksi. Rumit dipecahkan, karena memang sangat complicated!!!
Diam. Laki2 itu terdiam. Lelah berjalan, lelah melawan nafsunya. Letih menjalani hidupnya yang gila. Berfikir dia Jalan mana yang harus ditempuh. Persimpangan ini terlalu rumit, Penuh pesona, Namun terasa sesak udaranya. Huft… mungkin dia butuh petunjuk Namun pada siapa? Kemana? Entahlah…
I even never don’t know…..!!!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)




